Friday, February 20, 2026

Misteri naskah Kuno di Dasar Sungai

 

(Jejak Prasasti Arcadia / Et in Arcadia ego)

Bab 1: Kapal Megah dan Gugusan Karst

Delapan ribu tahun sebelum masehi, sebuah kapal kayu megah mengusik ketenangan gugusan kepulauan karst. Kapal yang dibangun dengan keahlian luar biasa itu sebenarnya sudah beberapa hari terombang – ambing disekitar kepulaun karst itu. Namun, saat matahari terbenam, sinar jingga menyinari lautan,  Kapal megah itu bergetar hebat saat menabrak menara-menara batu dan tebing-tebing curam yang tersembunyi di bawah permukaan air laut. Suara dentuman keras menggema di seluruh dek, membuat semua orang terkejut dan panik. Para pelaut berlarian mencari tempat aman, wajah mereka terlihat ketakutan. Kapten kapal, meski terlihat tegang, tetap tenang menghadapi keadaan itu. Dengan cepat, ia mengambil alih situasi. "Semua, kembali ke posisi masing-masing! Kita harus segera memperbaiki kerusakan!" teriaknya tegas. Beberapa pelaut bergegas mencari bahan seadanya untuk bermaksud memperbaiki kerusakan kapal, sementara yang lain berjuang menguras air yang sudah masuk hingga dek paling bawah. Pangeran yang juga merasakan kepanikan memanggil salah seorang ajudannya. "Cepat! Cari tahu apa yang terjadi di bawah sana!" perintahnya.
Tak lama kemudian, sang ajudan kembali dengan napas terengah-engah. "Yang mulia, di dek paling bawah, air sudah mulai menggenang. Anak buah kapal sedang berusaha menutup kebocoran dan mengeringkan area tersebut," lapornya. Setelah semua usaha dilakukan, suasana di dalam kapal mulai tenang meski masih ada rasa cemas yang tersisa. Namun, satu hal yang pasti, kapal tidak bisa lagi berlayar jauh. Pangeran menatap keluar, melihat hamparan pegunungan karst yang megah. "Baiklah, kita akan mencari tempat tinggal di sekitar sana,"
.

 

ujarnya  dengan penuh harapan.
Semua orang mengangguk setuju, dan perlahan kapal mulai berlayar menuju arah pegunungan itu, bersiap untuk petualangan berikutnya yang tak terduga.

Pada saat air laut surut, suasana di sekitar kapal mereka tampak berbeda. Gelombang yang biasanya menggulung lembut kini menyisahkan pemandangan yang menakjubkan di antara gunung-gunung karst yang menjulang. Mereka melihat sebuah lubang besar berbentuk lingkaran di salah satu gunung karst yang tidak begitu jauh dari posisi kapal mereka. Lubang itu tampak misterius, mengundang rasa penasaran para penumpang yang berjumlah sembilan puluh orang. Di dalam kapal, sang pangeran yang bijak ditemani sembilan orang pejabat bersama kapten kapal dan beberapa kru kapal yang mewakili dari delapan puluh pasukan, berunding untuk menjelajahi lokasi tersebut sekaligus mencari tahu tentang lubang besar itu. Beberapa orang dari mereka mengajukan diri untuk menjelajah masuk kedalam lubang misterius itu, dengan berani mereka masuk  menggunakan perahu kecil untuk menghampiri lubang besar  yang menganga, seolah menyambut kedatangan mereka.

Setelah mendekat, mereka terpesona oleh apa yang mereka temukan. Ternyata di balik lubang besar pada dinding gunung itu terdapat sebuah kubangan berbentuk sumur yang menunggu untuk dieksplorasi. Airnya yang jernih yang hanya tampak ketika air pasang, menciptakan suasana yang misterius. Rasa ingin tahu semakin menggebu di hati para penumpang. Terinspirasi oleh penemuan tersebut, mereka mulai berisinisiatif untuk meperbesar lubang itu denganmemahatnya untuk lebih besar lagi, membayangkan kemungkinan kapal mereka bisa masuk ke dalamnya. Dengan semangat, para pejabat, ajudan, dan pasukan mulai bekerja sama, mengangkat alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat jalan masuk yang lebih lebar. Mereka manghabiskan waktu  berminggu – minggu untuk merngerjakan lubang itu, hingga mereka berhasil membuat lubang seukuran dengan kapal mereka.

Setelah lambung kapal yang bocor berhasil mereka perbaiki, mereka memasukkan kapal itu ke lubang besar di gunung batu karang, dengan memanfaatkan air pasang pada sore hingga malam hari. Perlahan-lahan, kapal mereka ditarik masuk ke dalam lubang besar itu, dibantu oleh kekuatan gelombang yang mengangkat kapal. Di pagi hari Saat air pasang mulai surut, kapal itu perlahan-lahan terbenam ke dalam kegelapan gua. Suara ombak yang menghantam batu karang di luar menjadi latar belakang yang menenangkan, seolah-olah alam mendukung usaha mereka. Di saat air surut mereka Kembali bekerja keras menutup semua lubang dan celah tempat air pasang masuk, hingga pada saat air mulai pasang kapal mereka tetap terbenam di dasar gunung batu.

Di sekitar pegunungan batu karst yang sunyi itu, tidak ada satu pun rumah penduduk lokal yang berdiri, atau besar kemungkinan ditempat itu belum pernah tersentuh oleh peradaban manusia.  Namun, di beberapa gua dan ceruk tersembunyi, jejak-jejak kehidupan masa lalu begitu nyata. Mereka menemukan peninggalan peradaban manusia purba, seperti pecahan alat masak dari batu yang kasar, lukisan-lukisan purba yang menghiasi dinding gua, dengan pigmen alami dari tanah dan tumbuhan, serta serpihan tulang-belulang hewan buruan yang telah lama punah. Namun mereka lebih memilih mencari tempat yang lain atau membuat gua yang baru, daripada tinggal di gua bekas peninggalan manusia purba.

Bertahun-tahun mereka mendiami tempat itu, kehidupan di dalam gua, dan alam sekitar pegunungan batu karst, serta hamparan samudra yang seperti tak bertepi,  yang selama berapa tahun ini mereka sebut rumah mulai terasa berat. Satu per satu anggota kelompok mulai jatuh sakit. Penyakit yang tidak mereka pahami mulai merenggut nyawa mereka satu persatu.

Dalam keadaan yang semakin kritis, Pangeran memerintahkan untuk membuat kapal yang sederhana untuk mengirim beberapa anak buahnya dan satu orang mentrinya, pergi ke dunia luar, mencari bantuan makanan dan obat -obatan. Dalam perjalan ini, mereka cukup banyak membawa benda – benda berharga, Mereka membawa perhiasan dari emas ,perak dan perunggu, beberapa patung emas, bejana air dari emas, piring, sendok dari emas, tembikar logam dan masih banyak lagi. Untuk ditukarkan dengan makanan dan obat – obatan, jika mereka menjumpai peradaban diluar sana.

Mereka juga membawa serta beberapa pedang atau peralatan perang, juga tidak lupa mereka membawa peralatan ritual mereka, yang mereka masukan kedalam peti khusus.

Setelah berminggu -  minggu berlalu, bahkan hingga berbulan - bulan, semua utusan yang pergi mencari bantuan tidak  pernah kembali lagi,  harapan untuk melihat kembalinya utusan yang pergi mencari bantuan pun  memudar. Mereka yang tersisa di gua merasakan kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk menciptakan sesuatu yang akan mengingatkan mereka pada kisah hidup mereka dan pengalaman yang telah mereka lalui selama tinggal di tempat itu.

Dengan tekad yang kuat, mereka mulai membuat beberapa prasasti dari batu kapur yang ada di sekitar mereka. Setiap prasasti berisi cerita tentang kehidupan mereka, perjuangan melawan penyakit, harapan untuk masa depan, dan perjalanan berani yang dilakukan oleh teman-teman mereka yang pergi. Mereka menggambarkan bagaimana mereka membangun tempat tinggal, menemukan sumber air, dan menghormati nenek moyang mereka melalui ritual-ritual yang telah diwariskan. Prasasti-prasasti ini menjadi saksi bisu dari kehidupan yang pernah ada di gua itu, dan mereka berharap bahwa suatu hari, jika ada yang menemukan tempat itu, mereka akan mengingat dan menghargai kisah mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu anggota kelompok yang tersisa mulai pergi. Beberapa merasa putus asa dan memilih untuk menjelajahi daerah sekitarnya, berharap menemukan jalan pulang atau kehidupan baru. Namun, mereka juga tidak pernah kembali. Rasa kesepian dan kehilangan semakin mendalam, dan hanya menyisakan Pangeran, bersama tiga orang ajudannya yang setia, serta beberapa pasukan yang tetap bersama pangeran, hingga akhir hayat sang pangeran.

Dengan diliputi kesedihan yang sangat mendalam mereka memberi penghormatan terakhir kepada pangeran mereka. Mereka memahat sebuah lubang batu yang tersembunyi di dekat bekas kapal mereka, tempat di mana mereka berharap Pangeran akan beristirahat dengan tenang.

Mereka menempatkan tubuh Pangeran di dalam lubang batu itu, dikelilingi oleh benda-benda berharga. Sebelum menutup lubang batu itu, mereka melakukan ritual doa dan harapan agar jiwa Pangeran menemukan kedamaian, dan agar kisah hidupnya akan terus dikenang oleh generasi yang akan datang.

Setelah memakamkan Pangeran dengan penuh penghormatan, para ajudan dan sisa pasukan yang setia merasa bahwa mereka harus mengambil langkah terakhir untuk melindungi tempat persembunyian mereka. Dengan hati yang berat, mereka mulai menutup semua akses menuju gua, termasuk jalan menuju kapal dan makam Pangeran. Mereka bekerja sama, menggunakan batu-batu besar dan puing-puing yang ada di sekitar untuk menutup semua celah, memastikan bahwa cahaya dan air laut tidak dapat menembus masuk ke dalam tempat-tempat yang telah menjadi saksi bisu dari kehidupan mereka.

Setelah berhari-hari bekerja keras, mereka akhirnya merasa bahwa semuanya sudah aman. Mereka berdiri di depan pintu masuk gua yang kini tertutup rapat, merasakan campuran antara kesedihan dan kelegaan. Mereka tahu bahwa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, dan saatnya untuk melanjutkan hidup mereka.

Disekitar pintu gua, mereka menuliskan pesan di dinding batu kepada siapa saja dari teman mereka yang suatu saat kembali, mereka menuliskan pesan, bagaimana cara membuka pintu gua itu, serta bagaimana car masuk kedalam gua bekas kapal mereka dan letak posisi makam pengeran, tidak lupa juga mereka menuliskan petunjuk yang sama disebuah lempengan batu, dan membuang batu kedalam laut, dengan harapan yang sama, siapa tahu  suatu saat nanti, satu diantara mereka yang pergi, menemukan lempengan batu itu, dan bisa kembali ke gua, dimana mereka bersama menghabiskan waktu, hingga satu persatu dianatra mereka pergi dan tidak ada yang kembali lagi.

 

 

 

 

BAB 2 : Delapan Ribu tahun kemudian

Hingga delapan ribu tahun kemudian, tidak satupun dari mereka yang pernah kembali.  Kini peradaban memasuki jaman Masehi, Sejarah manusia mengalami transformasi yang luar biasa. Dalam periode ini, air laut menurun drastis, membuka peluang bagi manusia untuk mengeksplorasi daratan-daratan baru yang sebelumnya terendam. Penurunan permukaan air laut membawa dampak signifikan terhadap ekosistem secara keseluruhan. Daratan - daratan yang sebelumnya berada di dalam air, maupun daratan yang terisolasi di tengah lautan,  kini terhubung satu sama lain, menciptakan jalur baru bagi migrasi manusia. Dengan adanya daratan baru, manusia mulai membangun koloni. Komunitas-komunitas ini menjadi titik awal bagi peradaban baru. Migrasi manusia mulai mendiami dataran-dataran baru yang sudah mengering. Wilayah yang dulunya terendam air laut kini menjadi tanah subur yang dipenuhi berbagai flora dan fauna yang unik.

 

Tahun demi tahun. Puluhan tahun berlalu ke ratusan tahun hingga ribuan tahun perkembangan manusai terus bertambah seiring dengan moderenisasi kehidupan.

-BERSAMBUNG-
silahkan email ke 
arnoldleokarra@gmail.com untuk membaca sambungan cerita diatas


 #JejakPrasastiArcadia

#CeritaFantasi

#LegendaKuno
#MisteriSejarah
#PeradabanHilang
#PrasastiKuno
#ZamanPurba
#8000TahunLalu
#GuaMisterius
#GunungKarst
#KapalKuno
#RahasiaMasaLalu
#JejakLeluhur
#CeritaBersambung
#CeritaPendek
#NovelFantasi
#FiksiSejarah
#SastraIndonesia
#PenulisIndonesia
#CeritaAsliIndonesia
#StoryTime
#ShortStory
#CeritaYoutube
#YoutubeShorts
#KontenLiterasi
#BacaBuku
#RekomendasiBuku
#BacaKelanjutannya


#CeritaEksklusif
#EmailUntukLanjutan
#CeritaRahasia


Misteri naskah Kuno di Dasar Sungai

  ( Jejak Prasasti Arcadia /  Et in Arcadia ego ) Bab 1: Kapal Megah dan Gugusan Karst Delapan ribu tahun sebelum masehi, sebuah kapal k...