(Jejak Prasasti Arcadia / Et in Arcadia ego)
Bab 1: Kapal Megah dan Gugusan Karst
Delapan ribu tahun sebelum masehi, sebuah kapal kayu
megah mengusik ketenangan gugusan kepulauan karst. Kapal yang dibangun dengan
keahlian luar biasa itu sebenarnya sudah beberapa hari terombang – ambing
disekitar kepulaun karst itu. Namun, saat matahari terbenam, sinar jingga
menyinari lautan, Kapal megah itu bergetar hebat saat menabrak
menara-menara batu dan tebing-tebing curam yang tersembunyi di bawah permukaan
air laut. Suara dentuman keras menggema di seluruh dek, membuat semua orang
terkejut dan panik. Para pelaut berlarian mencari tempat aman, wajah mereka
terlihat ketakutan. Kapten kapal, meski terlihat tegang, tetap tenang
menghadapi keadaan itu. Dengan cepat, ia mengambil alih situasi. "Semua,
kembali ke posisi masing-masing! Kita harus segera memperbaiki kerusakan!"
teriaknya tegas. Beberapa pelaut bergegas mencari bahan seadanya untuk bermaksud
memperbaiki kerusakan kapal, sementara yang lain berjuang menguras air yang
sudah masuk hingga dek paling bawah. Pangeran yang juga merasakan kepanikan
memanggil salah seorang ajudannya. "Cepat! Cari tahu apa yang terjadi di
bawah sana!" perintahnya.
Tak lama kemudian, sang ajudan kembali dengan napas terengah-engah. "Yang
mulia, di dek paling bawah, air sudah mulai menggenang. Anak buah kapal sedang
berusaha menutup kebocoran dan mengeringkan area tersebut," lapornya.
Setelah semua usaha dilakukan, suasana di dalam kapal mulai tenang meski masih
ada rasa cemas yang tersisa. Namun, satu hal yang pasti, kapal tidak bisa lagi
berlayar jauh. Pangeran menatap keluar, melihat hamparan pegunungan karst yang
megah. "Baiklah, kita akan mencari tempat tinggal di sekitar sana," .
ujarnya dengan penuh harapan.
Semua orang mengangguk setuju, dan perlahan kapal mulai berlayar menuju arah
pegunungan itu, bersiap untuk petualangan berikutnya yang tak terduga.
Pada saat air laut surut, suasana di sekitar kapal mereka
tampak berbeda. Gelombang yang biasanya menggulung lembut kini menyisahkan
pemandangan yang menakjubkan di antara gunung-gunung karst yang menjulang.
Mereka melihat sebuah lubang besar berbentuk lingkaran di salah satu gunung
karst yang tidak begitu jauh dari posisi kapal mereka. Lubang itu tampak
misterius, mengundang rasa penasaran para penumpang yang berjumlah sembilan
puluh orang. Di dalam kapal, sang pangeran yang bijak ditemani sembilan orang
pejabat bersama kapten kapal dan beberapa kru kapal yang mewakili dari delapan
puluh pasukan, berunding untuk menjelajahi lokasi tersebut sekaligus mencari
tahu tentang lubang besar itu. Beberapa orang dari mereka mengajukan diri untuk
menjelajah masuk kedalam lubang misterius itu, dengan berani mereka masuk menggunakan perahu kecil untuk menghampiri
lubang besar yang menganga, seolah
menyambut kedatangan mereka.
Setelah mendekat, mereka terpesona oleh apa yang mereka
temukan. Ternyata di balik lubang besar pada dinding gunung itu terdapat sebuah
kubangan berbentuk sumur yang menunggu untuk dieksplorasi. Airnya yang jernih
yang hanya tampak ketika air pasang, menciptakan suasana yang misterius. Rasa
ingin tahu semakin menggebu di hati para penumpang. Terinspirasi oleh penemuan
tersebut, mereka mulai berisinisiatif untuk meperbesar lubang itu denganmemahatnya
untuk lebih besar lagi, membayangkan kemungkinan kapal mereka bisa masuk ke
dalamnya. Dengan semangat, para pejabat, ajudan, dan pasukan mulai bekerja
sama, mengangkat alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat jalan masuk yang lebih
lebar. Mereka manghabiskan waktu berminggu
– minggu untuk merngerjakan lubang itu, hingga mereka berhasil membuat lubang
seukuran dengan kapal mereka.
Setelah lambung kapal yang bocor berhasil mereka
perbaiki, mereka memasukkan kapal itu ke lubang besar di gunung batu karang,
dengan memanfaatkan air pasang pada sore hingga malam hari. Perlahan-lahan,
kapal mereka ditarik masuk ke dalam lubang besar itu, dibantu oleh kekuatan
gelombang yang mengangkat kapal. Di pagi hari Saat
air pasang mulai surut, kapal itu perlahan-lahan terbenam ke dalam kegelapan
gua. Suara ombak yang menghantam batu karang di luar menjadi latar belakang
yang menenangkan, seolah-olah alam mendukung usaha mereka. Di saat air surut
mereka Kembali bekerja keras menutup semua lubang dan celah tempat air pasang
masuk, hingga pada saat air mulai pasang kapal mereka tetap terbenam di dasar
gunung batu.
Di sekitar pegunungan batu karst yang sunyi itu, tidak
ada satu pun rumah penduduk lokal yang berdiri, atau besar kemungkinan ditempat
itu belum pernah tersentuh oleh peradaban manusia. Namun, di beberapa gua dan ceruk tersembunyi,
jejak-jejak kehidupan masa lalu begitu nyata. Mereka menemukan peninggalan
peradaban manusia purba, seperti pecahan alat masak dari batu yang kasar,
lukisan-lukisan purba yang menghiasi dinding gua, dengan pigmen alami dari
tanah dan tumbuhan, serta serpihan tulang-belulang hewan buruan yang telah lama
punah. Namun mereka lebih memilih mencari tempat yang lain atau membuat gua
yang baru, daripada tinggal di gua bekas peninggalan manusia purba.
Bertahun-tahun mereka mendiami tempat itu, kehidupan di
dalam gua, dan alam sekitar pegunungan batu karst, serta hamparan samudra yang
seperti tak bertepi, yang selama berapa
tahun ini mereka sebut rumah mulai terasa berat. Satu per satu anggota kelompok
mulai jatuh sakit. Penyakit yang tidak mereka pahami mulai merenggut nyawa
mereka satu persatu.
Dalam keadaan yang semakin kritis, Pangeran memerintahkan
untuk membuat kapal yang sederhana untuk mengirim beberapa anak buahnya dan
satu orang mentrinya, pergi ke dunia luar, mencari bantuan makanan dan obat
-obatan. Dalam perjalan ini, mereka cukup banyak membawa benda – benda
berharga, Mereka membawa perhiasan dari emas ,perak dan perunggu, beberapa
patung emas, bejana air dari emas, piring, sendok dari emas, tembikar logam dan
masih banyak lagi. Untuk ditukarkan dengan makanan dan obat – obatan, jika
mereka menjumpai peradaban diluar sana.
Mereka juga membawa serta beberapa pedang atau peralatan
perang, juga tidak lupa mereka membawa peralatan ritual mereka, yang mereka
masukan kedalam peti khusus.
Setelah berminggu -
minggu berlalu, bahkan hingga berbulan - bulan, semua utusan yang pergi
mencari bantuan tidak pernah kembali
lagi, harapan untuk melihat kembalinya
utusan yang pergi mencari bantuan pun
memudar. Mereka yang tersisa di gua merasakan kesedihan dan kehilangan
yang mendalam. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan untuk menciptakan sesuatu
yang akan mengingatkan mereka pada kisah hidup mereka dan pengalaman yang telah
mereka lalui selama tinggal di tempat itu.
Dengan tekad yang kuat, mereka mulai membuat beberapa
prasasti dari batu kapur yang ada di sekitar mereka. Setiap prasasti berisi
cerita tentang kehidupan mereka, perjuangan melawan penyakit, harapan untuk
masa depan, dan perjalanan berani yang dilakukan oleh teman-teman mereka yang
pergi. Mereka menggambarkan bagaimana mereka membangun tempat tinggal,
menemukan sumber air, dan menghormati nenek moyang mereka melalui ritual-ritual
yang telah diwariskan. Prasasti-prasasti ini menjadi saksi bisu dari kehidupan
yang pernah ada di gua itu, dan mereka berharap bahwa suatu hari, jika ada yang
menemukan tempat itu, mereka akan mengingat dan menghargai kisah mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu anggota
kelompok yang tersisa mulai pergi. Beberapa merasa putus asa dan memilih untuk
menjelajahi daerah sekitarnya, berharap menemukan jalan pulang atau kehidupan
baru. Namun, mereka juga tidak pernah kembali. Rasa kesepian dan kehilangan
semakin mendalam, dan hanya menyisakan Pangeran, bersama tiga orang ajudannya
yang setia, serta beberapa pasukan yang tetap bersama pangeran, hingga akhir
hayat sang pangeran.
Dengan diliputi kesedihan yang sangat mendalam mereka
memberi penghormatan terakhir kepada pangeran mereka. Mereka memahat sebuah
lubang batu yang tersembunyi di dekat bekas kapal mereka, tempat di mana mereka
berharap Pangeran akan beristirahat dengan tenang.
Mereka menempatkan tubuh Pangeran di dalam lubang batu
itu, dikelilingi oleh benda-benda berharga. Sebelum menutup lubang batu itu,
mereka melakukan ritual doa dan harapan agar jiwa Pangeran menemukan kedamaian,
dan agar kisah hidupnya akan terus dikenang oleh generasi yang akan datang.
Setelah memakamkan Pangeran dengan penuh penghormatan,
para ajudan dan sisa pasukan yang setia merasa bahwa mereka harus mengambil
langkah terakhir untuk melindungi tempat persembunyian mereka. Dengan hati yang
berat, mereka mulai menutup semua akses menuju gua, termasuk jalan menuju kapal
dan makam Pangeran. Mereka bekerja sama, menggunakan batu-batu besar dan
puing-puing yang ada di sekitar untuk menutup semua celah, memastikan bahwa
cahaya dan air laut tidak dapat menembus masuk ke dalam tempat-tempat yang
telah menjadi saksi bisu dari kehidupan mereka.
Setelah berhari-hari bekerja keras, mereka akhirnya
merasa bahwa semuanya sudah aman. Mereka berdiri di depan pintu masuk gua yang
kini tertutup rapat, merasakan campuran antara kesedihan dan kelegaan. Mereka
tahu bahwa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, dan saatnya untuk
melanjutkan hidup mereka.
Disekitar pintu gua, mereka menuliskan pesan di dinding
batu kepada siapa saja dari teman mereka yang suatu saat kembali, mereka menuliskan
pesan, bagaimana cara membuka pintu gua itu, serta bagaimana car masuk kedalam
gua bekas kapal mereka dan letak posisi makam pengeran, tidak lupa juga mereka
menuliskan petunjuk yang sama disebuah lempengan batu, dan membuang batu
kedalam laut, dengan harapan yang sama, siapa tahu suatu saat nanti, satu diantara mereka yang
pergi, menemukan lempengan batu itu, dan bisa kembali ke gua, dimana mereka
bersama menghabiskan waktu, hingga satu persatu dianatra mereka pergi dan tidak
ada yang kembali lagi.
BAB 2 : Delapan Ribu tahun
kemudian
Hingga delapan ribu tahun kemudian, tidak satupun dari
mereka yang pernah kembali. Kini peradaban
memasuki jaman Masehi, Sejarah manusia mengalami transformasi yang luar biasa.
Dalam periode ini, air laut menurun drastis, membuka peluang bagi manusia untuk
mengeksplorasi daratan-daratan baru yang sebelumnya terendam. Penurunan
permukaan air laut membawa dampak signifikan terhadap ekosistem secara
keseluruhan. Daratan - daratan yang sebelumnya berada di dalam air, maupun
daratan yang terisolasi di tengah lautan, kini terhubung satu sama lain, menciptakan
jalur baru bagi migrasi manusia. Dengan adanya daratan baru, manusia mulai
membangun koloni. Komunitas-komunitas ini menjadi titik awal bagi peradaban
baru. Migrasi manusia mulai mendiami dataran-dataran baru yang sudah mengering.
Wilayah yang dulunya terendam air laut kini menjadi tanah subur yang dipenuhi
berbagai flora dan fauna yang unik.
Tahun demi tahun. Puluhan tahun berlalu ke ratusan tahun
hingga ribuan tahun perkembangan manusai terus bertambah seiring dengan
moderenisasi kehidupan.
-BERSAMBUNG-
silahkan email ke arnoldleokarra@gmail.com untuk membaca sambungan cerita diatas
#CeritaFantasi
#LegendaKuno#MisteriSejarah
#PeradabanHilang
#PrasastiKuno
#ZamanPurba
#8000TahunLalu
#GuaMisterius
#GunungKarst
#KapalKuno
#RahasiaMasaLalu
#JejakLeluhur
#CeritaBersambung
#CeritaPendek
#NovelFantasi
#FiksiSejarah
#SastraIndonesia
#PenulisIndonesia
#CeritaAsliIndonesia
#StoryTime
#ShortStory
#CeritaYoutube
#YoutubeShorts
#KontenLiterasi
#BacaBuku
#RekomendasiBuku
#BacaKelanjutannya
#CeritaEksklusif
#EmailUntukLanjutan
#CeritaRahasia